Kontroversi tentang fatwa haram rokok yang terjadi beberapa minggu lalu, memberikan penulis ide untuk melihat rokok dari kacamata konsumsi atau lebih tepatnya pengeluaran rumahtangga untuk membeli rokok. Susenas BPS mulai tahun 2005 mengukur khusus pengeluaran untuk rokok dalam seminggu dimana pengeluaran rokok ini dimasukan kedalam pengeluaran makanan. Tahun sebelumnya pengeluaran rokok digabung dengan sirih, tembakau, pinang dan bahan untuk rokok lainnya. Tetapi menurut pengamatan penulis, pengeluaran sirih cs ini sangat kecil, sehingga dalam tulisan ini akan difokuskan ke rokok (rokok kretek, rokok putih dan cerutu). Pengamatan akan dilakukan dari tahun 2004 sampai 2007 (maaf penulis belum punya data mentah Susenas 2008), dengan melihat pengeluaran rokok, pengeluaran makanan dan total pengeluaran perbulan berserta rumahtangga yang mempunyai pengeluaran rokok.
Rumahtangga (rt) perokok adalah rt yang mempunyai pengeluaran untuk rokok, entah itu dipakai sendiri oleh anggota rt, dipakai orang lain atau untuk keperluan lainnya. Setidaknya konsep ini bisa digunakan sebagai pendekatan mengukur rt pemakai rokok.
Pada tahun 2007 terdapat 61.6% rt perokok dari 56.9 juta rt, angka ini ternyata mempunyai pola cenderung menurun sejak 2004 (71.8%). Walaupun pola ini cukup menggembirakan, tetapi angka rt perokok ini termasuk tinggi yang artinya bahwa rokok benar-benar barang yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Indonesia. Propinsi yang persen rt perokoknya tinggi umumnya di pulau Sumatera seperti Bengkulu, Sumatera Selatan, Riau dan Nanggroe Aceh Darussalam; sedangkan di luar Sumatera adalah propinsi Maluku Utara yang merupakan tertinggi di Indonesia sejak 2004 (89%) sampai 2007 (77.4%).
Pengeluaran Rokok dan Proporsinya terhadap Pengeluran Rumahtangga Perokok
Pada 2007, rata-rata pengeluaran rokok rt-perokok perbulan di Indonesia adalah Rp. 134 375,- , meningkat sekitar 42% dari tahun 2004. Kenaikan dari tahun ke tahun ini bukanlah hal baru karena harga rokok juga meningkat setiap tahunnya, yang dipengarui oleh pajak cukai rokok dari Pemerintah dimana terakhir naik 15%. Pada 2007 Propinsi yang rt-perokok dengan pengeluaran untuk rokok terbesar adalah Kepulauan Bangka Belitung, Riau dan DKI Jakarta dengan pengeluran rokok lebih dari Rp 200 000,- perbulan.
Tetapi yang menarik jika melihat proporsi pengeluaran rokok terhadap total pengeluaran rt perokok perbulan. Ternyata sejak tahun 2004 (11.5%) terdapat pola menurun sampai dengan 2007 (10.3%), artinya ada kemugkinan rt-perokok mulai mengurangi belanja rokok perbulannya. Ternyata di daerah pedesaan (rural) ternyata proporsi pengeluaran rokoknya lebih tinggi dibandingkan perkotaan (urban) tetapi keduanya juga mempunyai kecenderungan menurun. Walaupun menurun lambat sepertinya kondisi ini cukup menggembirakan bagi pecinta kesehatan. Kampanye anti-rokok, Peraturan Pemerintah, dan Fatwa ulama diduga menjadi penyebab menurunnya proporsi pengeluaran rokok ini.
Konsumsi Rokok dan Kemiskinan
Jika kita kelompokan rt menjadi 5 kelompok (Quintile) berdasarkan besarnya pengeluaran perkapita, dimana Q1 adalah 20% rt dengan pengeluaran perkapita terendah dan Q5 adalah 20% rt dengan pengeluaran perkapita tertinggi, maka kita akan mendapatkan konsep kemiskinan relatif yang sederhana.
Rata-rata pengeluaran rokok untuk rt-perokok berkorelasi dengan tingkat kesejahteraan, makin sejahtera maka besarnya pengeluaran rokok juga besar. Beda untuk kelompok terkaya (Q5) dan termiskin (Q1) sekitar rata-rata 42 ribu rupiah perbulan. Tetapi yang menarik adalah proporsi pengeluaran rokok terhadap pengeluaran total. Walaupun rt-perokok terkaya rata-rata pengeluaran rokok besar tetapi proporsi terhadap total pengeluaran perbulannya paling kecil dibanding kelompok termiskin sekalipun. Hal ini cukup dimaklumi karena pengeluaran rt kaya umumnya untuk pengeluaran non-makanan yang nilainya cukup besar dibandingkan dengan harga rokok. Ternyata kelompok rt-perokok yang tingkat kesejahteraan menengahlah yang proporsi pengeluaran rokoknya besar.
Kesimpulan
Proporsi pengeluaran rokok pada rt perokok mempunyai kecenderungan menurun, walaupun penurunannya lambat. Dengan makin banyak desakan tentang bahaya merokok, seperti pola ini akan terus berlanjut dari tahun ke tahun. Rt perokok sebagian besar ada di propinsi-propinsi pulau luar Jawa. Walaupun rata-rata pengeluaran rokok sebulan berkorelasi positif dengan tingkat kemiskinan, tetapi proporsi pengeluran rokok terhadap total pengeluran lebih tinggi pada rt kelas menengah.
Sumber Data
Seluruh data berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 s/d 2007 BPS yang diolah kembali dengan definisi dan formula yang dirumuskan penulis. Tabulasi data dalam tulisan ini tersedia di halaman download, boleh digunakan untuk apa saja selain untuk dikomersialkan dalam bentuk apapun kecuali atas seijin penulis.
Popularity: 5% [?]
- Artikel yang berhubungan
- Gini Ratio dan Keakuratan Data Pengeluaran Susenas (88.1%)
Tags: BPS, Kesehatan, Konsumsi, pengeluaran, rokok, Statistika, susenas












April 2nd, 2010 at 12:03 AM
Artikel yang menarik….
terima kasih atas infonya…
April 22nd, 2010 at 11:15 PM
@yayan AI, terima kasih atas kunjungannya
May 9th, 2010 at 7:07 AM
Saya tentu mendukung mas apabila belanja rokok dikurangi atau hilang sama sekali. Lah buat apa sih wong manfaatnya juga nggak ada :)
Mending buat beli buah atau makanan tambahan lain yang jelas-jelas bisa menambah asupan gizi buat anak dan orang tuanya tentu.
May 9th, 2010 at 10:21 AM
@Agus,
Saya juga setuju sekali, cuma namanya orang, kepalanya beda-beda. Kalau sudah ketagihan rokok atau kesadaran akan kesehatan rendah, susah sekali untuk ngurangi konsumsi rokok, kecuali jika memang mrk tidak punya duit
May 18th, 2010 at 11:22 AM
Andi terimakasih ya atas artikelnya. saya mohon ijin untuk mendownload tabel yang ad untuk keperluan skripsi saya. terimakasih
hormat saya,
laras
May 18th, 2010 at 11:27 AM
@Laras, silahkan saja…alhamdulillah ada yang memanfaatkan juga. Semoga cepat kelar skripsinya. Eh jangan lupa referensinya ke blog ini loh…kalau tdk keberatan :)