Bagi pencari nafkah di luar kota, Lebaran identik dengan pulang kampung (mudik) untuk bertemu dengan sanak keluarga di kampung. Tidak hanya warga kota besar seperti Jakarta saja yang pulang kampung, tetapi TKI yang bekerja di luar negeri juga mudik untuk silaturahmi termasuk bagi-bagi rejeki dan pamer keberhasilan. TKI sendiri sering disebut pahlawan devisa (kampungtki.com) karena memang mereka menyumbang pundi-pundi negara dari hasil kerja mereka di luar negeri. Makanya RI-1 tidak mau ribut dengan Malaysia!
Tulisan ini sebenarnya ingin melihat fenomena rumah tangga (rt) TKI dimana salah satu anggotanya sedang bekerja sebagai TKI. Jika diasumsikan TKI bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik, maka bisa jadi kehidupan keluarga di Indonesia akan berbanding lurus atau ikut kecipratan berkahnya. Penulis coba memanfaatkan data Susenas 2007, walaupun tidak update tetapi sudah sedikit memberikan gambaran awal kondisi TKI secara makro. Untuk lebih menarik penulis coba bandingkan dengan rt biasa tanpa ada TKI.
TKI punya rumah lebih bagus
Jika kita melihat kondisi tempat tinggal (rumah) rt TKI, maka bisa dipastikan mereka mempunyai rumah yang lebih layak dibanding rt biasa tanpa TKI. Gambar 1 terlihat baik di Kota maupun Pedesaan luas lantai perkapita (perorang) rt TKI lebih luas dibandingkan rt biasa sehingga anggota rt bisa lebih leluasa melakukan aktivitas. Juga jenis rumah dengan dindingĀ tembok dan atap genting/beton ternyata lebih banyak dimiliki oleh rt TKI dibandingkan rt biasa (Gambar 2).
Kehidupan Harian Rumahtangga TKI di Indonesia
Jika kita melihat kehidupan rt TKI yang ada di Indonesia, berdasarkan indikator yang penulis pilih, ternyata kehidupan harian mereka tidak lebih baik dibandingkan rt biasa. Jika kita melihat dari sisi bahan bakar untuk memasak keluarga (Gambar 3), ternyata baru 33% rt TKI yang menggunakan listrik/gas/minyak tanah, sedangkan rt biasa sudah sekitar 50%.
Jika ditinjau dari sisi komunikasi yang harusnya penting bagi rt TKI untuk saling berhubungan jarak jauh, ternyata pengunaan telepon/hp hampir sama dengan rt biasa, hanya lebih tinggi pada daerah pedesaan (Gambar 4). Dan yang paling penting lagi, pengeluaran perkapita perbulan rt TKI sekitar Rp 273.000,- sedangkan rt biasa Rp 338.000,- sehingga dari sisi kesejahteraan ternyata rt TKI tidak sebaik rt biasa tanpa ada TKI.
Jadi bisa disimpulkan secara singkat bahwa rt TKI hanya bisa memberikan citra sejahtera dari fisik tempat tinggal dimana rumah tinggal lebih luas dan lebih permanen dengan bangunan tembok. Sedangkan kehidupan sehari mereka ternyata tidak lebih baik dari rumah tangga jika dilihat dari sisi pengeluaran/konsumsi harian/bulanan. Jadi inilah gambaran makro rt TKI di Indonesia, mungkin ini tidak cocok dengan keadaan rt TKI disekitar Anda, karena sekali lagi ini analisa makro bukan case by case. Akan sangat baik jika temuan sederhana bisa dikembangkan menjadi penelitian besar dengan data yang lebih update dan indikator yang lebih banyak dan tepat.
Popularity: 2% [?]
- Artikel yang berhubungan
- Data Jumlah Rumah Menurut Kualitasnya (50%)
- Universitas Belum Berhasil Mendorong Lulusan Jadi Entrepreneur (50%)
Tags: lebaran, mudik, Perumahan, pulang kampung, rumah, tenaga kerja, TKI














3 Responses to “Rumah Tangga TKI, Sejahterakah Mereka?”
Trackbacks/Pingbacks
Leave a Reply