- Image via Wikipedia
Artikel ini sebenarnya hasil membaca santai saya di bis antara Jakarta Bogor pada Sabtu pagi yang umumnya sepi penumpang. Buku yang saya baca adalah What the Dog Saw karya Malcolm Gladwell, bagian artikel tentang penemu pil KB. Awalnya kurang tertarik karena istilahnya sangat medis, tetapi ada bebera bagian yang akhirnya saya harus bolak-balik baca untuk menyakinkan saya.
Saya tidak akan ngebahas pil KB itu sendiri tetapi ada seorang peneliti yang hasil penelitiannya memberikan hasil yang cukup membuat penasaran. Ilmuwan itu bernama Beverly Strassmann, dimana tempat penelitiannya di Mali, Afrika tepatnya pada suku Dogon. Suku Dogon tidak menggunakan kontrasepsi dan masih berpegang teguh pada adat leluhur, termasuk memakan tikus guling atau bakar…wuak!. Strassmann ingin memahami profil reproduktif perempuan, seperti apa biologi kaum perempuan pada zaman sebelum modern.
Apa yang dilihat dari perempuan?
Disini yang dilihat adalah seberapa sering perempuan beranak? berapa sering perempuan haid? Kapan perempuan mencapai masa puber dan menopause? Apa ada dampak menyusui kepada ovulasi?
Suku Dogon punya kebiasaan mengumpulkan perempuan yang haid di sebuah “Pondok Haid” yaitu sebuah rumah di tepi desa dengan 1 ruangan sempit cukup untuk 3 perempuan. Perempuan yang haid harus bermalam di sana, dan pulang ke rumah masing-masing pada pagi hari. Strassmann mengumpulkan air kencing mereka untuk memastikan mereka memang haid atau tidak. Sebagai peneliti, Strassmann memang perlu dicontoh bagi peneliti lainnya, dimana selama 2 tahun (736 malam) mengumpulkan data-data perempuan yang mendatangi Pondok Haid tersebut.
Hasil Penelitian
- Perempuan mendapat haid pertama pada umur 16 th dan melahirkan 8-9 kali seumur hidupnya.
- Sejak pertama kali mendapat haid sampai umur 20 th, rata-rata perempuan mengalami haid 7x setahun.
- Perempuan usia 20-35 th, umumnya perempuan suku Dogon hamil dan menyusui sehingga rata-rata hanya haid 1x setahun, karena kegiatan menyusui akan menghambat terjadinya ovulasi selama 20 bulan.
- Perempuan usia 35 tahun lebih sampai usia monopouse rata-rata haid 4x setahun
- Total perempuan suku Dogon, mengalami haid rata-rata 100x sepanjang hidupnya. Hal ini sangat berbeda dengan perempuan modern yang rata-rata 350 sampa 400x haid sepanjang hidupnya.
Perempuan seharusnya tidak haid setiap bulan, ahli kandungan yang menganggap haid tiap bulan berarti mereka tidak mengerti biologi menstruasi yang sebenarnya.
Pelajaran bagi Peneliti
Strassman merupakan peneliti yang tekun sehingga dia mempunyai data lengkap setiap perempuan yang mendatangi pondok haid dari waktu ke waktu (time series). Dengan begitu dia bisa luluasa meneliti fenomena perempuan disana yang berhubungan dengan reproduksi perempuan. Strassman tetap menggunakan statistika untuk mengambil kesimpulan karena data yang dia kumpulkan tidak bisa berbunyi tanpa statistika.
Popularity: 4% [?]
- Artikel yang berhubungan
- Perempuan Buta Huruf Lebih Tinggi (86.7%)
Tags: haid, Kesehatan, menyusui, perempuan, reproduksi
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=94e636fa-6e4d-4217-b897-33a916b3f927)












June 21st, 2010 at 7:18 PM
Saya mendapat share dari teman yang sdh mempunyai anak remaja bahwa anak sekarang juga lebih cepat haid mas, apa faktor makanan ya penyebabnya ?
June 22nd, 2010 at 8:06 AM
@Lintang,
Saya barusan baca tesis anak statistika IPB, tentang Menarche atau datang bulan pertama kali. Disini sich disebutkan menarche dipengaruhi oleh faktor genetika, kondisi sosial ekonomi, gaya hidup, status gizi, musim, aktivitas fisik, dan letak geografis.
Di penelitian ini ternyata riwayat menarche ibu si anak sangat pengaruh, selain itu kondisi sosial ekonomi, dan lebih specifik lagi orang yang sering minum softdrink umumnya si anak akan lebih cepat dapat datang bulan pertama.