Sudah lama saya tidak terlibat langsung melakukan interview untuk penggalian informasi dari responden. Kali ini, saya melakukan penelitian mandiri untuk tesis program studi Statistika Terapan IPB. Saya ingin menggali langsung informasi kemiskinan dari penerima-penerima Bantuan Tunai Langsung (BLT) di Jakarta Utara, khusus hari ini adalah di Kecamatan Koja (dekat dengan tempat tinggal saya). Awalnya saya agak ragu-ragu karena saya tidak ada persiapan administrasi, surat-surat pengantar survei, ijin-ijin yang kadang-kadang menghambat survei. Saya pikir di Jakarta, masyarakatnya lebih kritis dengan orang-orang baru, tingkat kecurigaannya juga tinggi.

Tetapi ternyata apa yang saya kawatirkan tidak terbukti, setidaknya untuk 10 responden yang sudah saya wawancarai. Mereka sangat welcome, dan surprise-nya seluruh sample acak bisa saya temui tanpa ada pergantian sample, saya sendiri geleng-geleng kepala sendiri. Saya coba untuk mensarikan pengalaman hari ini.

Menemui Orang Miskin Lebih Mudah Dibanding Orang Menengah-Kaya
Orang miskin memang hidup susah, tetapi mereka mempunyai tingkat sosial yang tinggi. Mereka sangat welcome dengan tamu yang datang dengan baik/sopan dengan penampilan yang menyakinkan pula (berpakaian santai). Perbanyak senyum/ketawa/bercanda dan basa-basi yang membuat interview terkesan santai. Mereka sepertinya mampunyai harapan, apa yang dia jawab semoga bisa memberikan sesuatu yang positif bagi mereka. Sebaiknya terus terang saja bahwa informasi yang diberi tidak secara langsung memperbaiki kondisi mereka.

Orang Miskin Banyak Ngeluh tapi Kaya Informasi
Ini yang saya suka, mereka berani kasih waktu untuk ngobrol ngalor ngidul tentang nasib mereka, apalagi dengan program pemerintah yang menjanjikan ke mereka fasilitas gratis/murah untuk kehidupan mereka. Ternyata selain pertanyaan kuesioner terjabab, kita bisa mendapatkan bonus info yang sangat kaya yang bisa mendukung analisa nantinya walaupun bersifat kualitatif, sebagai orang sosial ini adalah harta karun, sedangkan bagi statistisi ini adalah PR untuk mendapatkan indikator untuk mendukung analisis kuantitatifnya.

Inilah pengalaman saya hari ini…downgrade jadi interviewer! Ternyata sangat menyenangkan!

    Jika artikel ini menarik, kirim ke:
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Digg
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • Reddit
  • email
  • Print
  • PDF

Popularity: 2% [?]

  • Unique Post

4 Responses to “Pengalaman Interview dengan Si Miskin”

  1. maksudnya kualitas disini harta? tapi kuantitas disini apa? sdkt krg ngerti. thank you

  2. @Chris, maksudnya jika kita tau permasalahan yang muncul dari masyarakat, kita bisa buat istrument survei untuk menggali informasi lebih detail. Dari istrument ini kita bisa mengukur suatu indikator baik secara kuantitas (misalnya banyaknya yang menjawab) atau kualitas (informasi-informasi dari jawaban terbuka).

  3. Penduduk miskin di indonesia masih sgt tinggi, saya pernah melakukan survei permukiman kumuh yang masyarakat tggl di dalamnya tak lain masyarakat di bawah garis kemiskinan. Banyak permasalahan yg mereka hadapi buta huruf, tgkt kesehatan rendah, kurang air bersih dan seabrek permasalahan lainnya. Tdk penting bagaimana sampai mereka bisa jadi miskin, yg lebih penting mengetahui solusi permasalahanya. yang ingin saya sarankan terkait postingan di atas perlu kiranya diketahui komponen2 atau indikator yg bisa ditingkatkan dan diperbaiki dari masyarakat miskin, trmkasieh…

Trackbacks/Pingbacks

  1. guide casino

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word