Dalam beberapa artikel blog ini sering disinggung tentang quintile/kuintile. Beberapa tabel dan grafik sering ditunjukan perbedaan antar quintile. Sering disebutkan bahwa Quintile ke-1 (Q1) adalah 20% penduduk termiskin sedangkan Q5 adalah 20% penduduk terkaya.

Data-data sosial di Indonesia yang berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) , mengukur kesejahteraan bukan dari pendapatan tetapi dari konsumsi atau pengeluaran. Setiap rumahtangga sampel mempunyai data total pengeluaran perbulan (dalam rupiah), tetapi ini bukan secara langsung menjadi ukuran kesejahteraan karena harus dilihat dulu berapa jumlah anggota rumahtangganya. Jika total pengeluaran perbulan dibagi dengan jumlah anggota rumahtangga maka akan diperoleh data pengeluaran perkapita perbulan. Pengeluaran perkapita inilah yang digunakan sebagai ukurang kesejahteraan penduduk dan rumahtangga. Angka kemiskinan, indeks ketimpangan kemiskinan, indeks keparahan kemiskinan dan gini rasio, semua perhitungaannya merujuk ke pengeluaran perkapita ini.
Pengelompokan rumahtangga dan penduduk menjadi quintile didasarkan pada pengeluran perkapita ini. Teknisnya sederhana sekali, untuk membuat quintile nasional maka caranya sebagai berikut:
- kita urutkan seluruh sample penduduk menurut pengeluaran perkapita. Umumnya mengunakan fungsi sorting diberbagai software statistika atau database.
- Kita bagi data terurut tersebut menjadi 5 kelompok dengan mempertimbangkan pembobot data survey. Biasanya cara manual yang bisa dilakukan adalah membuat frekuensi kumulatif untuk pembobot dari data terurut , sehingga jika yang dibuat frekuensi kumulatif pembobot individu maka frekuensi kumulatif terakhir yang diperoleh bisa dianggap sebagi total penduduk Indonesia yang besarannya kurang lebih 250 juta. Jika frekuensi kumulatif setiap sample dibagi dengan total penduduk di atas (total frequensi kumulatif) dikali dengan 100% maka kita akan peroleh ukuran persen. Ukuran persen inilah yang menjadi ukuran pembagian kelompok penduduk menjadi 5 quintile, dimana Q1 merupakan kelompok individu yang persennya 0-20%, Q2 20-40% dan seterusnya sehinga Q5 adalah 20% tertinggi.
Sebenarnya pekerjaan diatas bisa dilakukan dengan mudah dengan SPSS atau software statistic lainnya, disini saya hanya memberikan gambaran algoritma (logika) pengelompokan menjadi 5 kelompok (Quintile) sehingga kita bisa tahu konsep dasar pengelompokannya.
Konsep quintile ini menjadi alat bantu untuk melihat kondisi rumahtangga atau penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan. Konsep ini mudah sekali dipahami karena lebih sederhana dibanding konsep kemiskinan dengan garis kemiskinan. Selain itu konsep quintile ini mengikuti kondisi sebenarnya tiap tahun survey, yang artinya mengikuti kondisi kesejahteraan relative di masyarakat. Batasan (minimum dan maksimum) pengeluaran perkapita tiap quintile akan mengikuti kesejahteraan tiap tahun. Dengan memperoleh ukuran Quintile, banyak indikator sosial-ekonomi yang lebih menarik analisanya. Akhirnya ukuran quintile ini bisa melengkapi analisa kemiskinan berdasarkan garis kemiskinan.
Popularity: 8% [?]
- Unique Post













One Response to “Pendekatan Quintile untuk Analisa Kemiskinan”
Trackbacks/Pingbacks
Leave a Reply