Mungkin Anda termasuk orang yang masih awam dengan data BPS dan tiba-tiba dihadapkan untuk mengolah salah satunya. Mungkin artikel pendek ini bisa memberikan sedikit info yang berguna. Sebelumnya perlu dicatat saya bukan orang BPS tetapi cukup ada pengalaman menggunakan data-data dari BPS. Umumnya data-data BPS merupakan hasil survei atau sensus, bedanya apa? Kalau dengan bahasa statistika, data survei adalah data-data yang diambil dari object sampel dari sebuah populasi, sedangan data sensus adalah data-data dari populasi itu. Jadi kebayang kan data sensus lebih gede dibandingkan survei, tetapi tidak berarti ukuran file database (rawdata) sensus lebih besar karena bisa jadi survei dengan banyak pertanyaan memiliki file rawdata yang lebih besar dari sensus (yang biasanya pertanyaan/kuesioner sensus tidak panjang). Kalau dari segi struktur datanya, biasanya data survei BPS mempunyai pembobot di setiap record/kasus/responden sedangan sensus tidak. Pembobot ini bisa dianggap bahwa setiap responden mewakili sejumlah orang di lokasi tersebut, sehingga jika pembobot dijumlahkan atau dimasukan dalam sebuah perhitungan maka kita akan mendapatkan pendekatan populasi sebenarnya. Makanya sensus tidak ada pembobot karena toh kalau dijumlahkan juga dapat populasi juga.
Data Sensus yang ada di BPS yang saya tahu antara lain: Sensus Penduduk (SP), Sensus Pertanian (ST), Sensus Ekonomi (SE) dan Potensi Desa (Podes). Tidak banyak memang, tetapi kegiatan ini menguras banyak tenaga dan tentunya anggaran negara. Semua sensus dilakukan 10 tahun sekali. SP dilakukan tiap tahun berakiran nol (0) misal 1990, 2000, 2010 (rencana). ST dilakukan tiap tahun berakiran 3 misalnya 2003 kemarin. SE dilakukan tiap tahun berakhiran 6, misalnya 2006 kemarin. Podes boleh dikatakan sebagai sensus desa dimana dilakukan sebelum ke-3 sensus tersebut dilakukan, misalnya sebelum ada SP2000 ada Podes 2000 yang sebenarnya dilakukan pendataannya pada 1999, sebelum ST2003 ada Podes 2003 (dilaksanakan 2002), dan sebelum SE2006 ada Podes 2006 (dilaksanakan 2005). Apa saja isi dari setiap sensus tersebut, sepertinya di artikel lain selanjutnya nanti akan dibahas, mohon sabar!
Data survei, kalau ini jumlahnya banyak sekali, mungkin saya akan mencontohkan yang sering digunakan terutama dalam publikasi penelitian maupun di media massa. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) adalah dua survei yang sering digunakan. Susenas dilakukan setiap tahun di seluruh kabupaten/kota Indonesia, kecuali jika ada suatu halangan seperti keamanan (NAD th 2000 s.d 2002, Papua 2002, Maluku 200 dan 2001) atau bencana alam (NAD 2005, Kab. Bantul 2006). Susenas merupakan survei terbesar dengan sampel rumah tangga sekitar 200.000 rumah tangga. Susenas mulai tahun 2005 dilakukan tiap bulan juli-agustus, sedangkan sebelumnya bulan februari setiap tahunnya. Sedangkan Sakernas dilakukan 2 kali dalam setahun, setiap bulan februari dan agustus. Tahun 2006 ke balakang jumlah rumah tangga samplenya Cuma 65.000 tetapi balakangan 2007, sampelnya sudah ditambah sehingga analisanya bisa sampai level propinsi sedangkan dulunya hanya untuk angka nasional saja.
Artikel ini mungkin sampai ini dulu, harapnya bisa dilanjutkan dengan artikel lain untuk menggali lebih jauh produk-produk BPS tersebut.
Sumber: Pengalaman pribadi, www.bps.go.id, sirusa.bps.go.id, Statistik Indonesia
Popularity: 27% [?]
- Unique Post
Tags: Badan Pusat Statistik, BPS, Podes, Sakernas, Sensus, Sensus Ekonomi, Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, Survei, susenas












April 20th, 2009 at 10:22 AM
hehe… menarik juga, ada orang yg ngga di bps mau membahas tentang bps. kalo perlu info lanjutan boleh hubungi saya, mas! kayanya situs ini belum ada di listnya
http://www.datastatistik-indonesia.com
selain ketiga sensus besar tadi, ada juga namanya SUPAS (survey penduduk antar sensus), yang dilakukan pada tahun berakhiran 5.
untuk susenas, sebenarnya sudah beberapa tahun ini dilakukan 2x. susenas panel, dimana respondennya tidak berubah selama 5 tahun (dilakukan bulan februari, tetap), dan susenas besar (istilahnya bps nih…), karena jumlah respondennya lebih banyak, dan angkanya bisa digunakan untuk mengestimasi sampai tingkat kabupaten/kota…
April 20th, 2009 at 10:40 AM
Terima kasih masukan dan tambahan infonya. Memang harusnya begitu, publik harus bisa menilai produk2 BPS … wong mereka pakai uang rakyat untuk kegiatannya kan!
Benar memang ada susenas Panel dengan responden 10.000 rumah tangga yang sama tiap tahun. Ngomong2 udah di tambah belum sampel RT utk panel?
December 22nd, 2009 at 9:44 PM
Mas.sy baru diterima sebagai KSK,,boleh gak klo sy minta tolong di bimbing apasih tugas pokok KSK beserta tanggungjawabnya terhadap BPS
December 23rd, 2009 at 8:33 AM
@Arie, terima kasih sudah membaca blog saya. Mohon maaf mas Arie, saya bukan orang BPS jadi saya terus terang kurang tau. Maaf yach!