Koefisien engel (KE) adalah proporsi pengeluaran/konsumsi makanan terhadap total pengeluran rumah tangga. Koefisien engel ini merupakan salah satu indicator untuk melihat kemiskinan. Banyak penelitian menunjukan bahwa rumahtangga miskin akan cenderung mempunyai proporsi pengeluaran makanan yang lebih besar dibandingkan rumahtangga kaya. Rumahtangga miskin, tenaga dan pikiran kesehariannya hanya seputar bagaimana bisa makan yang cukup. Beda sekali dengan rumahtangga kaya yang ternyata masih mempunyai pilihan banyak untuk kehidupan, selain pengeluaran makanan.
Pada tahun 2007, data Susenas menunjukan bahwa KE untuk Indonesia sebesar 60.6%. KE ini juga terlihat meningkat setelah masa krisis ekonomi 1999 dimana pada waktu itu mencapai 71%. Hal ini menunjukan bahwa pada masa krisis, pengeluaran rumahtangga untuk makanan lebih tinggi dibanding sebelumnya dan konsumsi barang bukan makanan berkurang. Hal ini dimungkinkan karena selama krisis dan sesudahnya harga makanan dan barang-barang non-makanan tinggi, rumahtangga cenderung memprioritaskan konsumsinya ke makanan sebagai kebutuhan primer.
Dari tabel ini terlihat bahwa proporsi pengeluaran makanan terbesar adalah pada 20% rumahtangga termiskin (Q1) kemudian diikuti Q2, Q3, Q4 dan Q5 yang terkecil. Kalau diperhatikan secara seksama, Q1,Q2,Q3 dan Q4 mempunyai koefisien Engel yang tidak berbeda jauh, sedangkan Q5 mempunyai nilai yang berbeda cukup jauh. Gap (beda) antara Q5 dan Q4 lebih besar dibanding gap antar Q1,Q2,Q3 dan Q4. Berarti 20% rumahtangga terkaya mempunyai pilihan konsumsi non-makanan yang lebih besar, karena memang mereka mempunyai uang untuk mendapatkannya. Hal ini juga menunjukan bahwa terjadi ketimpangan yang cukup besar antara kelompok kaya dengan kelompok dibawahnya.
Popularity: 4% [?]
- Unique Post












Leave a Reply