Artikel ini adalah kelanjutan dari analisa penerima BLT sebelumnya. Seperti halnya BLT fasilitas kesehatan gratis ini makin gencar diberikan setelah adanya kenaikan harga BBM karena pencabutan subsidi BBM oleh Pemerintah.

Data dan metode yang digunakan sama dengan analisa penerima BLT di artikle sebelumnya. Termasuk peubah bebas yang digunakan dalam regresi logistik. Hanya peubah responya saja yang diganti dengan Kes=Rumahtangga pernah memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis (1=Ya, 0=Tidak).

Dari 277,202 rumahtangga sampel ternyata hanya sekitar 14.6% pernah memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis ini, sedangkan di perkotaan 11.2% rumahtangga pernah memanfaatkannya dan di pedesaan lebih banyak lagi sekitar 16.5%. Jika Rumah tangga miskin didefinisikan sebagai rumahtangga dengan pengeluaran perkapita kurang atau sama dengan garis kemiskinan, maka baru sekitar 23.7% rumah tangga miskin pernah memanfaatkannya.

Dari Tabel 3 ditunjukan bahwa nilai dugaan parameter (B) nyata pada taraf < 0.001 untuk menerangkan respon pemanfaatan fasilitas kesehatan gratis. Dengan melihat uji Wald, ternyata semua dugaan parameter untuk peubah-peubah kesejahteraan rumahtangga memberikan pengaruh secara nyata terhadap pemanfaatan fasilitas kesehatan gratis pada taraf nyata  =0.05. Pengujian keberartian model dengan hipotesis awal (nol) bahwa semua dugaan parameter sama dengan nol ditunjukan pada Tabel 4, dengan statistik G= 8960.8 dengan p-value<0.001 maka kita bisa tolak hipotesis awal bahwa semua dugaan parameter sama dengan nol, jadi kita bisa yakin bahwa ada minimal satu dugaan parameter yang tidak sama dengan nol.


Penduga parameter rumahtangga tinggal di pedesaan (rural) menunjukan rasio odd sebesar 1.14, artinya rumahtangga yang tinggal di pedesaan kemungkinan untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis lebih besar 1.14 kali dibandingkan rumahtangga di perkotaan. Sedangkan untuk rumahtangga yang dikepalai wanita ternyata peluang untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis lebih besar 1.54 kali dibandingkan rumahtangga dengan kepala rumahtangga laki-laki. Sedangkan untuk rumahtangga dengan kepala keluarga bekerja ternyata peluang untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis lebih sedikit 0.82 kali dengan rumahtangga yang kepala rumahtangganya tidak bekerja. Rumahtangga dengan kepala rumahtangga yang berumur diatas 50 tahun ternyata mempunyai peluang memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis lebih tinggi 1.18 kali dibandingkan kepala rumahtangga berumur dibawah atau sama dengan 50 tahun. Kelompok rumahtangga miskin juga punya peluang memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis lebih besar 1.54 kali dibandingkan rumahtangga tidak miskin. Rumahtangga dengan luas lantai perkapita kurang dari 10 m2 juga mempunyai peluang lebih besar 1.55 kali dibandingkan rumahtangga dengan luas lantai perkapita lebih dari 10 m2. Rumahtangga dengan rumah berlantai tanah ternyata berpeluang memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis lebih besar 1.6  kali dibandingkan rumahtangga dengan lantai bukan dari tanah. Rumahtangga yang masih menggunakan kayu bakar untuk memasak juga berpeluang memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis lebih besar 1.6  kali dibandingkan rumah tangga yang sudah tidak menggunakan kayubakar.

Jadi dari 8 peubah bebas yang diamati hampir semua peubah yang menunjukan peluang memanfaatkan fasilitas kesehatan lebih tinggi, kecuali RT dengan kepala keluarga yang bekerja ternyata peluang memanfaatkannya lebih rendah berarti mereka masih mampu untuk berobat non-gratis.

    Jika artikel ini menarik, kirim ke:
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • RSS
  • StumbleUpon
  • Digg
  • del.icio.us
  • LinkedIn
  • Technorati
  • Yahoo! Bookmarks
  • Reddit
  • email
  • Print
  • PDF

Popularity: 28% [?]

Tags: , , , , , , , , , ,

8 Responses to “Fasilitas Kesehatan Gratis untuk si Miskin kah?”

  1. salam kenal aja :)

  2. Salam kenal juga yach. Thx!

  3. prihatin melihat kasus penyalahgunaan fasilitas kesehatan yg masih belum di atasi, semoga segera di gunakan demi golongan yg membutuhkan… :)

  4. Mas bener banget kayaknya masalah kesehatan harus jadi konsumsi wong cilik, selama ini kita cuma dibodohi gara-gara gak ngerti masalah kesehatan.

  5. @henri, kesehatan adalah hak setiap warganegara, jadi masyarakat harus tahu tentang pelayanan kesehatan terutama program gratis kesehatan

  6. prihatim adalah kata untuk si miskin yang belum mendapatkan haknya.

  7. @boy, kita memang pantas prihatin juga tetapi perlu ada action sesuai yang kita mampu

  8. trims infonya:D

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word