Pendapatan merupakan salah satu ukuran kesejahteraan penduduk, walaupun besarannya relatif. Karena sifat relatif inilah data pendapatan sulit diperoleh. Di Indonesia, data pendapatan penduduk di dekati dengan data pengeluaran/konsumsi rumah tangga. Data pengeluaran biasanya dikumpulkan tiap tahun lewat Susenas Kor dan Susenas Modul Konsumsi tiap tiga tahun sekali.
Rasio Gini adalah salah satu ukuran ketimpangan pendapatan penduduk secara menyeluruh. Rasio Gini didasarkan pada kurva Lorenz yaitu kurva 2 dimensi antara distribusi penduduk (persentase kumulatif penduduk) dan distribusi pengeluaran perkapita (persentase kumulatif pengeluaran perkapita). Rasio gini bisa dihitung dari Susenas, banyak yang menggunakan cara dengan membuat beberapa kelas pengeluaran untuk membentuk kurva Lorenz yang mirip kurva kuadratik tersebut, selain mudah dimengerti juga mudah dihitung. Saya mencoba menghitung dengan pendekatan lain yaitu menggunakan pendekatan titik bukan kelas/selang lagi, harapnya bisa menghasilkan kurva yang lebih baik lagi. Lihat lebih rinci tentang Gini Ratio disini.
Jika melihat hasil perhitungan rasio gini ini, terlihat ada pola dimana tiap 3 tahun terjadi lonjakan. Dan menariknya, lonjakan ini terjadi pada tahun-tahun dimana Susenas Modul Konsumsi dilaksanakan yaitu 1996, 1999, 2002, dan 2005; sayang sekali 2008 belum release. Sample rumahtangga di dalam Modul konsumsi (sekitar 65 ribu) merupakan sub-sample dari Susenas Kor (sekitar 200-an ribu). Jika modul konsumsi benar-benar memotret konsumsi secara rinci maka kesalahan pengukuran konsumsi rumahtangga akan semakin kecil, sehingga akan memberikan statistik sosial-ekonomi yang cukup akurat. Dengan asumsi ini berarti pengukuran tingkat konsumsi rumahtangga di Susenas Kor tanpa Modul Konsumsi tidak seakurat jika ada Modul Konsumsi. Jadi jika ingin melihat kesenjangan pengeluaran di Indonesia dengan gini rasio maka lihatlah 3 tahun sekali, walaupun angkanya cukup tinggi untuk tahun-tahun tersebut. Hal ini (harapan saya) juga bisa menjadi indikasi awal untuk BPS untuk makin meningkatkan kualitas pengambilan informasi di lapangan, khusunya pengeluaran/konsumsi rumahtangga yang sering digunakan sebagai ukuran kesejahteraan di Indonesia.
Artikel ini merupakan analisa yang masih kasar, untuk membuktikan dugaan-dugaan dalam artikel ini perlu ada studi lebih mendalam, seperti seberapa jauh kontribusi keakuratan sample modul terhadap sample kor secara keseluruhan.
Popularity: 10% [?]
Tags: BPS, Gini Coeficient, Gini Ratio, Konsumsi, Modul Susenas, pengeluaran, Rasio Gini, statistik, susenas
Cellphone atau yang sering disebut handphone (HP) saat ini sudah seperti kebutuhan primer saja. Sehingga kita bisa melihat banyak rumah tangga yang sekarang mempunyai handphone, tidak hanya orang tua yang memilikinya tetapi anak-anak sampai pembantu rumah tangga pun juga memilikinya. Hal ini dimungkinkan karena makin murahnya harga HP di pasaran dan juga tarif selular yang main murah dengan banyaknya operator yang saling menarik pelanggan.
Tulisan ini sebenarnya pengembangan artikel sebelumnya “Pengguna HP vs Telpon di Rumahtangga“. Kali ini saya hanya ingin melihat rumahtangga yang memiliki HP. Ternyata dari 3 tahun survei, ternyata persen rumahtangga yang memiliki HP sangat meningkat tajam. Yang manerik adalah pertumbuhan rumahtangga dengan HP di kalangan rumah tangga miskin (40% rumahtangga termiskin), pada kelompok termiskin ternyata pertumbuhannya hampir 500% sejak 2005 walaupun angka rumahtangga miskin pengguna HP baru 9.4% di tahun 2007. Begitu juga dengan Q2 dengan pertumbuhan pengguna 400%. Hal ini menunjukan bahwa akses rumahtangga miskin ke perangkat modern ini sudah mulai tinggi karena kemungkinan besar karena HP dan Pulsa lebih murah. Ke depan mungkin pertumbuhan akan tetap meningkat karena sekarang banyak nomor HP yang masa aktifnya seumur hidup.
Rumahtangga kelompok kaya juga tidak ketinggalan, walaupun pertumbuhan pengguna tidak secepat kelompok rumahtangga miskin tetapi peningkatannya cukup besar apalagi kalau mengingat bahwa rumahtangga kelompok inilah yang mempunyai persentase pengguna HP yang tertinggi. Pada tahun 2007, sekitar 74.7% rumahtangga terkaya sudah memiliki HP sebagai alat komunikasi. Secara nasional, pertumbuhan rumahtangga pengguna HP meningkat hampir 200% dari 19.9% (2005) menjadi 37.6% (2007).
Rumahtangga pengguna menurut propinsi bisa di lihat di Susenas Pointer atau langsung melihat chart dibawah ini:

Popularity: 15% [?]
Tags: BPS, handphone, miskin, Statistika, susenas, telekomunikasi
Satu lagi sumber data online yang bisa Anda manfaatkan untuk penelitian atau pengambilan kebijakan. Data Demografi dan Kesahatan seluruh negara termasuk Indonesia tersedia gratis di website Measure DHS. Tidak tanggung-tanggung data terakhir Survei Demografi & Kesehatan Indonesia (2007) sudah bisa didownload. Termasuk laporan akhir dari DHS itu sendiri. Disini kita bisa melihat informasi penduduk, kesehatan ibu-anak, kesehatan reproduksi, termasuk KB, HIV/AIDS, Imunisasi, Kematian balita, dan masih banyak.
Selain Indonesia, tersedia juga informasi yang sama untuk negara lain sehingga kita bisa bandingkan antar negara untuk indikator yang sama. Selian itu informasi yang Anda inginkan bisa di-spatial-kan dengan memanfaatkan fasilitas peta yang ada. Website ini benar-benar mengedepankan ketersediaan data beserta alat-alat analisanya.
Menurut saya, website ini sangat berguna bagi mahasiswa atau dosen untuk studi lebih lanjut. Seluruh data tersedia, publikasi lengkap, bebera link-link informasi disediakan termasuk alat analisanya. Sepertinya seperti inilah website data yang saya idamkan untuk informasi/survei lainnya.
Popularity: 14% [?]
Tags: Data, Demografi, DHS, fertilitas, HIV/AIDS, KB, Kesehatan, mortalitas, SDKI, Statistika, Survei
Koneksi internet di Indonesia makin mudah diperoleh, sehingga aktifitas ber-internet ria makin mewabah di Indonesia. Salah satunya adalah kegiatan tulis-menulis di blog yang makin digandrungi saja, baik anak muda sampai dengan orang tua. Pengguna blog saat ini bisa memanfaatkan fasilitas gratis blog seperti blogger.com atau wordpress.com. Saat ini pengunjung blogger ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan wordpress, seperti ditunjukan chart berikut.
Jadi tidak salahnya Anda mencoba menggunakan blogger sebagai blog Anda. Perlu diketahui bahwa blogger menyediakan fasilitas untuk mempercantik blog kita. Fasilitas ini sering disebut “Template“, bagi pengguna Blogger mungkin tidak puas dengan template yang disediakan oleh blogger karena sebagian besar terkesan kaku, walaupun ada beberapa yang bisa dimodifikasi. Tapi jangan berkecil hati karena template blogger bisa diperoleh di website di luar blogger atau website pihak ketiga.
Sudah banyak sekali website yang menyediakan template blogger gratis, salah satu rekomendasi saya adalah blogspottemplate.com. Disini Anda bisa memperoleh banyak template yang simple tetapi enak dipandang mata. Simple karena templatenya tidak jauh beda dengan template yang disediakan blogger, tidak banyak komponen tambahan yang kadang-kadang membuat pengguna blogger patah semangat karena setting-nya musti memerlukan skill programming website. Enak dipandang karena memang sebagian besar template di blogspottemplate menggunakan gambar-gambar yang menarik dengan tema yang beragam. Seperti template blog “Hot Air Balloons” dengan gambar balon udara yang kaya warna. Simple dan elegan cocok untuk blog dokumentasi tentang perjalanan wisata Anda.
Tetapi sayang sekali, blogspottemplate tidak memberikan kategori template menurut tema, sehingga dalam pencarian kita tidak bisa langsung sesuai selesa kita. Salah satu alat untuk mempercepat pencarian sesuai selera kita adalah dengan melihat “Tag” yang ada di sisi kanan website. Andaikan blogspottemplate bisa memberikan kategori yang jelas maka pengguna blogspottemplate akan lebih nyaman mencari template blogger sesuai selera. Semoga ke depan blogspottemplate bisa memberikan template yang menarik, mudah diaplikasikan dan tentunya mudah dalam pencarian.
Popularity: 12% [?]
Saat ini Facebook menjadi raja situs pertemanan di seluruh Dunia. Tetapi ternyata di dunia bisnis, ada situs yang ternyata menjadikan Facebook menjadi nomor 2, situs itu adalah twitter.com. Data ini diperoleh dari polling situs Linkedin.com yang memang situs ini salah satu situs pertemanan dalam dunis bisnis.

Jika melihat statistic pengunjung, memang Facebook paling banyak dikunjungi, pada bulan April 2009 ini sekitar 104 ribu user mengunjungi situs ini, sedangkan twitter hanya 1/5-nya. Hal ini cukup dimaklumi karena pengguna user memang lebih banyak dibanding twitter. Tetapi jika melihat pertumbuhan penggunanya dalam sebulan yang lalu, twitter lebih baik dibandingkan facebook dan linkedin paling buruk karena pertumbuhannya dalam sebulan berkurang. Apalagi pertumbuhan dalam setahun terakhir ternyata twitter jauh melebihi facebook atau linkedin.
Pooling ini diikuti oleh 3615 responden dimana 4% business owners, 26% managers, 56% non-managers. Mereka juga berasal dari Small business 75% dan marketer 25%. Hampir 83% responden berusia 25-54 tahun, sisanya dibawah 25 tahun.

Menurut responden, ternyata twitter dianggap sebagai platform baru yang bisa mengembangkan produk mereka dibandingkan dengan facebook maupun linkedin.

Bagi pemilik usaha (Owner) ternyata sepakat twitter adalah situs yang dapat mengembangkan brands.

Bagi responden dari perusahaan enterprise, facebook masih merupakan pilihan untuk branding. Untuk skala besar, sedang atau kecil, walaupun twitter lebih tinggi tetapi tidak terlalu jauh dengan facebook.

Twitter ternyata dipercaya dalam pengembangan brand untuk responden dari kalangan Business Development, Creative dan Marketing.

Perempuan ternyata lebih suka twitter dalam pengembangan brand, sedangkan laki-laki juga memilih twitter tetapi facebook, linkedin dan iphone tidak jauh berbeda.

Linkedin masih dipercaya oleh golongan tua (usia 55 tahun) sebagai pembangun brand. Sedangkan golongan muda masih menyukai twitter dan facebook.
Ya memang ini sekedar polling, tetapi sepertinya patut dipertimbangkan untuk pengembang produk di Indonesia.
Popularity: 16% [?]


























